SOE HOK GIE TUMBAL (POLITIK) INDONESIA

August 4, 2009

SOE HOK GIE TUMBAL (POLITIK) INDONESIA
M. Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre

soe_hok_gie
“Revolusi di Indonesia selalu digawangi anak-anak muda. Maka, yang bermimpi melakukan revolusi di Indonesia, jangan berharap bisa kecuali menyerahkan kunci pada kaum muda. Lebih tepatnya, para revolusioner itu adalah mahasiswa.”

Bagi saya, tidak ada aktifis (politik) yang seharum Soe Hok Gie. Namanya dahsyat, biografinya harus dibaca oleh mahasiswa-mahasiswa baru ketika kami masuk menjadi siswa perpeloncoan di kampus. Dan, Gie, menguatkan hipotesa revolusi yang terjadi di Indonesia. Sebab, ia adalah salah satu tulang punggung perubahan politik negeri ini. Jika ada yang hampir menyamainya, itu hanya dua orang legenda hidup: Hariman Siregar [aktifis Malari 1974] dan Budiman Sudjatmiko [aktifis PRD 1998]. Yang membedakannya, Gie mati muda seperti harapannya. Sedang pada Hariman dan Budiman, keduanya menikmati pernikahan, beranak pinak dan berumur panjang seperti harapan mereka berdua.

Pada Gie, sedikit banyak hidupku ikut ditapakkan, termasuk rindu pada revolusi dan kematian yang tak kunjung datang. Membenci pada kehadiran negara yang pongah [Orde Baru] dan negara yang tak bertindak [Orde Reformasi]. Membenci para petualang politik dan ekonomi yang tega menjual idealisme dan harta negara dengan harga murah. Pada Gie dan saya ada kerinduan yang sama terhadap “semesta tak terpahami,” seperti nujum tertulis tegas-jelas bahwa, “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda.” Tetapi, mati tetaplah urusan Tuhan yang tak dapat kita tahu tanggal dan tempatnya.

Saya selalu teringat ketika mengikuti pelatihan pers jurnalistik semasa mahasiswa. Para senior selalu mengatakan, menulis itu penting. Tetapi menjalankan apa yang kita tulis akan jauh lebih penting. Jadilah penulis organik agar bangsa kita tak berhenti menjadi milik Soekarno dan Soeharto. Duo monster besar yang menghancurkan kemanusiaan kita semua, begitu kira-kira kalimat para senior sebelum memulai diklat. Dan, Gie adalah idola kami. Idola aktifis mahasiswa zaman kami. Karena Gie bagi kami adalah syahid yang menghancurkan Soekarno dan independen-kritis pada Soeharto.  Kritik utama Gie pada rezim Soekarno adalah personalisasi kekuasaan yang menggila. Puncaknya adalah menjadikan diri Soekarno sebagai pemimpin seumur hidup yang kerjanya kawin dan lupa pada persoalan mendasar kebutuhan rakyat: ekonomi. Sedang kritik utamanya pada rezim Soeharto dalah pola pembangunan yang timpang karena pro pertumbuhan dan konglomerat yang berbasis pada pendanaan utang. Juga pada kesukaan Soeharto melakukan KKN di sekitar istana untuk kekayaan diri dan keluarganya.

Kematian Gie menghentak, bahkan biografi yang difilmkan berpuluh tahun kemudian meledak, menginspirasi banyak orang untuk bertindak. Perilakunya dipuja, tindakannya menginjeksi para pemuja. Gie memang luar biasa, lain dari mahasiswa dan aktifis pada umumnya. Ia memang tak sempat banyak menulis buku, tapi artikel kritisnya beredar dan dibaca banyak orang. Karena itu, peninggalan terdahsyatnya adalah catatan harian yang ditulisnya sebagai “cara Gie membaca dunia,mengkritik kawan dan tanah airnya.” Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES menjadi buku berjudul “Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.” Buku itu setebal 494 halaman tetapi banyak pembacanya melahap sampai habis sambil menitikkan air mata. Isinya tentang kemanusiaan, kehidupan, cinta, politik, moral dan juga kematian. Buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Ada juga riset ilmiah untuk disertasi dari John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Koran mingguan “Bandung Mahasiswa Indonesia” [Desember 1969], mempersembahkan editorial khusus pada kematian Gie dengan kalimat sangat manusiawi dan menyentuh, “tanpa menuntut agar semua insan menjadi Soe Hok Gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih. Kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur manakala kita melakukan kesalahan.” Ia menjadi “penanda zaman” dan tempat kita bercermin. Ia menjadi tapal pencapaian seorang anak idealis di negeri yang carut marut sampai kini. Arwahnya mengundang kami untuk selalu kritis dan melawan. Potretnya mengejek kami yang rapuh.

**
Gie menulis, “yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan rakyat.” Adakah tokoh elite kita hari ini punya yang berharga? Kurasa tidak.

**
Soe Hok Gie lahir tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta. Ia adalah adik dari sosiolog kondang Arief Budiman [nama aslinya Soe Hok Djien]. Anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan sejak kecil amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana itu tinggal di bilangan Kebonjeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, yaitu tanggal 16 Desember 1969.

Kita tahu Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa. Jadi, kalaulah karir Gie tidak sampai puncak karena mati muda, ia sudah sampai di puncak yang ditandai dengan kematiannya di puncak gunung tertinggi Semeru yang disebut juga gunung Mahameru. Dengan tinggi 3.676 meter dari permukaan laut, Mahameru memiliki kawah di puncaknya dengan nama Jonggring Saloko. Semeru mempunyai kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Di sebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan daerah Pasirian, Candiputro dan Lumajang.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang tertera pada kitab kuna Tantu Pagelaran dan  berasal dariabad ke-15, pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak ke sana ke mari. Atas kejadian itu, para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.

Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib.

Menurut orang Bali, Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat hantu dan dapat bicara dengan hantu. Terserah orang percaya pada hantu atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh hantu-hantu.

***
Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober, sehingga harus dipindahkan lagi. Namun, keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika Gie meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Perjalanan sejarahnya terpublis sejak remaja. Setelah lulus dari SMA Kanisius, Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan dan ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet di Banyumas, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.” Bersama Mapala UI, Gie banyak menaklukkan gunung-gunung.

soehokgiedipuncakpangrangoSewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung, dan Gie menjawab kepada teman-temannya: “Kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” Sambil naik gunung, ia sering bersenandung lagu berjudul Donna Donna: On a waggon bound for market/There is a calf with a mournful eye/High above him there is a swallow/winging swiftly through the sky/How the winds are laughing/they laugh with all their might/Laugh and laugh the whole day through/and half the summers night/Donna, Donna, Donna, Donna/Donna, Donna, Donna, Don/Donna, Donna, Donna, Donna/Donna, Donna, Donna, Don/Stop complaining/Said the farmer/Who told you a calf to be/Why dont you have wings to fly with/like the swallow so proud and free/Calves are easily bound and slaughtered/never knowing the reason why/But whoever treasures freedom/like the swallow has learned to fly/
Walau ia seorang demonstran yang gigih, perjalanan ke luar negeri juga tidak ditinggalkannya. Pada tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya. Terentang sepanjang umurnya, Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Pada buku, Di Bawah Lentera Merah:  Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920, Gie  menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, Gie mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia; apa gagasan substansialnya serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an. Menurut Gie, di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menengah [midle class] menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia. Inilah awal mula kesadaran kelas sebagai basis perjuangan menemukan momentumnya. Gie begitu kagum sehingga harus membuat sebuah penelitian serius bagaimana perjuangan kelas menjadi hadir dan nantinya bersama perjuangan lain menuntut kemerdekaan bagi warga negara Indonesia.

Dibawah lentera merah

Sesungguhnya, buku ini merupakan karya skripsi sarjana yang memotret gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Melalui buku ini Soe Hok Gie, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisionalis lokal tahun 1917-an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indoensia seperti sekarang ini.

Pada buku Catatan Sesgie01orang Demonstran, Soe Hok Gie mencatat banyak hal: pribadi dan umum. Berkelindan cerita tentang sikapnya, cintanya dan bahkan ketakutan-kekecewaan hidupnya. Bahkan tentang konsep kebudayaan sebagai hasil diskusi dengan Ong Hok Ham pada tanggal 31 Desember 1962 juga ada. Di sana dia menulis: “Lihat di Irian Barat, telanjang, bercawat, tidak ada kebudayaan” (hal.109). Usia buku Catatan Seorang Demonstran memang sudah lebih dari 40 tahun. Sejak Mei 1983 sampai Agustus 1993, buku itu rutin diterbitkan sampai cetakan kesepuluh. Kemudian dicetak lagi bersamaan dengan peluncuran film Gie produksi Miles Film.

Buku berikutnya yang dicetak dan sampai pada kita adalah Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Buku ini seperti novel yang mengisahkan perjuangan PKI. Karena itu, buku ini dilengkapi dialog-dialog antar aktor yang dipotret. Misalnya dialog antara Musso dan tentara yang mau menembaknya. “Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta supaya menyerah pada engkau. Lebih baik meninggal daripada menyerah, walau bagaimanapun saya tetap merah putih.” Karena prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapten Sumadi telah datang. Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati. Mayatnya dibawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar. Karya tentang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan.

Tapi Gie cukup hati-hati dan tetap bersikap objektif dalam analisisnya hingga fakta sebagai “suatu yang suci” dalam bangunan sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat.
Begitu pentingnya Gie dalam konstelasi politik nasional saat itu, John Maxwell sampai membuat disertasi berisi biografinya. Lalu diterbitkan menjadi buku berjudul Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. Menurut John, Gie bukan partisan, dalam arti mengabdikan kegiatan intelektualnya bagi suatu kepentingan politik sempit. Tetapi ia juga bukan jenis intelektual yang mengelakkkan keterlibatan dalam kancah politik. Seperti diakuinya, politik ibarat lumpur kotor, namun dalam keadaan mendesak, ia siap mencemplungkan diri ke dalamnya. Terjun dalam pergolakan politik tanah air pada tahun-tahun 60-an, Soe Hok Gie ikut mengambil bagian dalam gerakan perlawanan terhadap keotoriteran Sukarno. Ia menulis dalam surat kabar maupun selebaran gelap, dan pada tahun 66 aktif menggerakkan demonstrasi mahasiswa di jalan-jalan.

Sebagai seorang cendekiawan, “kejujurannya tidak mengenal batas,” tulis Soedjatmoko dalam “Peranan Intelektual di Negara Sedang Berkembang” yang terbit  Juli 1970. Kelahiran Orde Baru yang secara tidak langsung ikut dibidaninya tidak membuatnya menutup mata terhadap gejala keotoriteran baru yang muncul tidak lama kemudian. Gie sejak awal kelahiran rezim Soeharto telah mengkritik KKN di sekitar istana. Tanpa tedeng aling-aling, tulisan-tulisannya menyuarakan keprihatinan pada cara Soeharto dalam memerintah republik. Itulah potret Soe Hok Gie, seorang intelektual muda yang konsisten melawan tirani sampai akhir hayatnya.

Ketika mayat Gie akan dimakamkan, kakaknya, Arief Budiman menulis kenangannya, “Di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik. Dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, Gie sendirian, sedang mengetik membuat karangan. Saya terbangun dari lamunan, berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, ‘Gie kamu tidak sendirian.’ Saya tak tahu apakah Gie mendengar atau tidak.”
Di luar negeri, berita kematian Gie sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut, “Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok Gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan. Bagi saya, ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat.”

Dalam hidupnya, Gie juga menulis sesuatu yang sangat subtansial tentang moral. “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama-buruh-pemuda, bangkit dan berkata: stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Lupakan perang dan kebencian. Mari sibukkan diri dengan pembangunan dunia yang lebih baik.” Sementara soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Gie menulis artikel berjudul Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan, “Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan. Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Maka, untuk mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh dosen-dosen korup dan penguasa jahat.”

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan: kutang dan pupur. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki  “politisi berkartu mahasiswa.” Para politisi yang ikut memuja Soekarno dan Soeharto. Padahal, menurut Gie, semua orang di seputar Soekarno-Soeharto dinilainya korup dan culas, penjilat dan bermental  “asal bapak senang” dan “yes men.” Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Gie  akan kekuatan moral dalam politik. Karena itu, menurut Gie, keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara dan bukan selamanya. Lalu, Gie menyampaikan argumentasi bahwa nanti tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.

Akhirnya, dengan politik sebagai panggilan kritik pada penguasa agar benar, Gie lebih banyak memilih mendaki gunung daripada berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif. Sambil sesekali, Gie menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya berjudul Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung. Termuat di Sinar Harapan 18 Agustus 1973 puisi Gie berjudul “Pesan.” Hari ini aku lihat kembali/Wajah-wajah halus yang keras/Yang berbicara tentang kemerdekaaan dan demokrasi/Bercita-cita menggulingkan tiran/Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara/Mau berperang melawan diktator/Yang tanpa uang mau memberantas korupsi/Kawan-kawan kuberikan padamu cintaku/Maukah kau berjabat tangan/Selalu dalam hidup ini?

*
Jika mengingat bagaimana Gie bersikap pada rezim zalim, maka refleksi kita jelas: Saatnya angkat senjata dan taklukkan rezim kolonial lokal yang lebih ganas dari kolonial lama. Sebab, tahukah Anda mengapa rakyat kita begitu tenang memilih Presiden yang berwatak kolonial? Ternyata karena sepanjang hidupnya, mereka telah belajar menderita dalam diam. Mereka juga terbiasa terdiam dalam sengsara seakan-akan itu semua “kutukan” Tuhan.  Karena itu, mereka harus dibangunkan.

*
Gie telah pergi beribu bulan yang lalu. Ketika terlahir kembali, (mestinya) revolusilah bentuknya. Ia telah menjadi tumbal dan pupuk perjuangan banyak pihak. Pada negeri ini, negeri yang sangat dicintainya. Semoga kita segera menemukan keadilan agar kritik berhenti dan orang-orang seperti Gie tak mati muda lagi.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: